"Pergerakan revolusioner di Indonesia selalu masih ada. Jika
pergerakan ini hendak mendapatkan hasil, maka sekarang telah
pada waktunya, kita menyusun program nasional dan mengumumkan
program ini kepada seluruh rakyat."
Sedikit kutipan diatas diambil dari buku berjudul "Naar de Republiek
Indonesia" atau "Menuju Republik Indonesia". Menuju Republik
Indonesia ditulis di Cina pada tahun1924. Tulisan tersebut memuat
pokok-pokok pikiran mengenai cita-cita kemerdekaan Indonesia.
Menuju Republik Indonesia ditulis oleh Tan Malaka. Muhammad
Yamin, seorang sejarawan dan pakar hukum Indonesia, dalam karya
tulisnya "Tan Malaka Bapak Republik Indonesia" memberi sebuah
komentar: "Tak ubahnya daripada Jefferson Washington merancangkan
Republik Amerika Serikat sebelum kemerdekaannya tercapai atau
Rizal Bonifacio meramalkan Filipina sebelum revolusi Filipina pecah".
Menuju Republik Indonesia telah lahir jauh sebelum Soekarno maupun
Muhammad Hatta mengemukakan pemikirannya mengenai cita-cita
Indonesia merdeka.
Sabtu, 22 September 2007
Naar de Republiek Indonesia
Diposkan oleh
gubug kecil
pada
05:18
0
komentar
Label: sejarah
Minggu, 16 September 2007
Anarkisme dan Kekerasan
Beberapa demonstran memecahkan kaca jendela gedung dewan. Mereka melakukan tindakan kekerasan demi terwujudnya tuntutan mereka. Media massa menyebut tindakan demonstran tersebut sebagai tindakan anarkis. Banyak orang mengiyakan pernyataan media tersebut. Tetapi, benarkah anarkis itu sebuah tindakan kekerasan?
Diposkan oleh
gubug kecil
pada
23:26
0
komentar
Label: sosial
Selasa, 31 Juli 2007
Kerinduan
Malam berkabut
Dingin menusuk hingga tulang berdenyut
Di bawah sinar purnama
Jalanan sepi tanpa siapa
Kosong laksana raga melamun
Aku melangkah
Dalam sebuah kerinduan
Untuk kembali
Pulang ke rumah
Diposkan oleh
gubug kecil
pada
20:01
1 komentar
Label: sastra
Nyuwun Ngapunten*
Hari ke-29 di Kota Yogyakarta. Selepas sholat Jumat, langkahku berbegas menuju warung makan yang tak jauh dari masjid. Bersama dua orang kawan, aku memasuki warung makan tersebut. Warung itu tidak terlalu besar, tetapi cukup banyak menu makanan yang disediakan.
Ruangan warung itupun cukup tertata rapi. Boks tempat menaruh makanan terletak di sebelah timur, di dalam ruangan. Seorang ibu tua (aku biasa memanggilnya Si Mbah) berdiri di belakang di boks makanan tersebut. Ia bertugas melayani jika ada pembeli. Dua buah meja rapat dengan dinding di sebelah barat dan utara. Sedangkan sebuah meja lagi, merapat dengan boks makanan.
Setelah aku masuk dari pintu yang berada di sudut di sebelah barat ruangan, berturut turut masuk empat orang lainnya. Kami semua mengantri untuk membeli makanan. Tetapi, seorang pria setengah baya yang berdiri di belakangku, tiba tiba menyalip antrian. Pria itu kini berdiri di depanku.
Budaya orang Indonesia, pikirku mula mula. Tetapi, pikiranku kemudian berubah. Ketika saatnya pria itu dilayani, ia menarik tanganku dan mempersilahkanku untuk memesan makanan terlebih dahulu. Aku tak habis pikir dan tak mengerti akan tindakan pria itu.
Aku memesan makanan, kemudian bergabung dengan kedua kawanku di meja sebelah utara. Tak berapa lama, pria itupun selesai memesan makanan lalu duduk di meja sebelah barat, di dekat pintu. Di atas meja di depan pria itu, tersaji sepiring makanan. Dan, segelas es jeruk di sebelah kanan piring.
Bletak... Terdengar suara benda terjatuh. Beberapa batu es menggelinding di atas meja yang telah basah oleh cairan. Gelas berisi es jeruk itu terjatuh. Tersenggol seseorang yang hendak duduk di sebelah pria tadi. Kedua orang tersebut tak saling kenal.
Akan ada perkelahian, aku berpikir lagi. Tetapi, pikiranku salah. Orang tersebut meminta maaf. Pria itu memaafkan. Orang tersebut kembali meminta maaf. Pria itu kembali memaafkan. Orang tersebut sekali lagi meminta maaf sambil membersihkan meja. Dan, pria itu sekali lagi memaafkan sembari membantu orang tersebut membersihkan meja.
Setelah meja bersih, keduanya kembali makan sambil sesekali berbincang bincang seperti tak pernah terjadi apa apa. Kedua orang itu baru saja saling kenal.
Diposkan oleh
gubug kecil
pada
19:35
1 komentar
Label: sketsa harian
Jumat, 27 Juli 2007
Memori
Pentalan gerimis itu menyentuhku. Membasahi jaket hitamku yang kusam. Namun, aku tak peduli. Aku hanya ingin menunggu. Bersamamu, sayang.
Lihatlah, laut itu bercahaya. Kerlap kerlip lampu kapal, seperti kunang kunang, di kejauhan. Kerlipan kerlipan itu berjalan. Ada juga yang berhenti. Namun, semuanya jauh. Tak ada yang dekat ataupun mendekati kita.
Sekali lagi aku tak peduli. Kau pun sepertinya tak peduli. Tidak apa apa, sayang. Kita memang tidak membutuhkan cahaya. Seperti cahaya yang enggan mendekati kita.
Mungkin bukan hanya cahaya. Mungkin semua orang. Ayah ibumu dan juga ayah ibuku membenci kita. Keluargamu dan keluargaku juga membenci kita. Semua orang memusuhi kita. Namun, kita tidak membutuhkan mereka semua. Aku hanya butuh kau. Dan, kau hanya butuh aku.
Kita seperti lorong ini, sayang. Sendiri menghadapi terik mentari. Menggigil terguyur hujan tanpa ada yang menemani. Kita juga seperti lorong ini. Terinjak injak kaki kaki yang melangkah.
Masih ingatkan kau, sayang? Ketika semua orang memandang kita jijik. Menganiaya dan melukai kita. Mereka semua menginjak. Dan, kau tak melawan. Aku pun tak melawan.
Terinjak mungkin menyakitkan bagi seseorang. Namun, kita malah tertawa. Karena kita sudah mengerti hidup. Karena terinjak adalah hidup kita.
Kau sangat menyukai laut. Aku masih ingat itu. Laut itu damai, katamu suatu hari. Kini aku menemukan kedamaian itu. Bersamamu. Bersama lautmu.
Gerimis belum lagi mereda. Angin yang berhembus membelokkan rintik rintik air sejengkal. Gerimis terlihat miring.
Rokokku tinggal sebatang. Kau selalu melarangku untuk merokok. Maafkan aku, sayang. Namun, angin malam ini terlalu dingin untukku. Biarlah kuhisap sebatang ini.
Kulihat kau hanya tersenyum. Senyum yang sama seperti dahulu. Senyum yang membuat aku terpikat padamu. Membuat aku bangga padamu. Bangga dengan ketabahanmu dalam menjalani hidup.
Hidup kita memang susah, sayang. Kita terlalu muda dalam berkelana. Usiaku belum genap duapuluh tahun. Sedangkan, kau baru saja melepas putih abu abu.
Dunia ini terlalu ganas bagi kita yang kecil. Namun, kita tak pernah mengeluh. Kau tak pernah mengeluh. Kita selalu melihat ke depan. Walaupun depan tanpa cahaya. Walaupun depan belum tentu ada.
Lorong dermaga ini tinggi. Duapuluh empat anak tangga kita naiki tadi. Laut terlihat sangat indah dari sini. Dan, kita berdiri di ujung lorong.
Malam ini sepi. Hanya ada kau dan aku. Derap langkah yang terdengar sedari pagi kini lenyap. Hanya gerimis yang masih bersuara. Sejak mentari pergi, sore tadi.
Kita masih di sini, sayang. Berdiri dalam gelap ujung lorong dermaga. Gelap yang telah membuat kita melakukan permainan mereka. Permainan yang seharusnya tidak kita mainkan. Namun kita memainkannya.
Dalam gelap, makhluk mungil itu keluar dari lubang kecilmu, sembilan bulan kemudian. Makhluk itu menangis sejenak, kemudian terlelap. Kau pun terlelap. Dan, kalian enggan bersua lagi denganku. Kalian tak lagi bersuara.
Gerimis kini mereda. Rokokku pun telah padam. Kau masih tersenyum dalam bingkai. Agaknya laut masih indah menurutmu. Dan malam ini, aku tahu kenapa laut begitu indah bagimu. Karena laut sebentar lagi akan mempertemukan kita.
Diposkan oleh
gubug kecil
pada
00:01
2
komentar
Label: sastra