Selasa, 31 Juli 2007

Kerinduan

Malam berkabut
Dingin menusuk hingga tulang berdenyut
Di bawah sinar purnama
Jalanan sepi tanpa siapa
Kosong laksana raga melamun
Aku melangkah
Dalam sebuah kerinduan
Untuk kembali
Pulang ke rumah

Yogyakarta, 310707 00:24

Read More..

Nyuwun Ngapunten*

Hari ke-29 di Kota Yogyakarta. Selepas sholat Jumat, langkahku berbegas menuju warung makan yang tak jauh dari masjid. Bersama dua orang kawan, aku memasuki warung makan tersebut. Warung itu tidak terlalu besar, tetapi cukup banyak menu makanan yang disediakan.
Ruangan warung itupun cukup tertata rapi. Boks tempat menaruh makanan terletak di sebelah timur, di dalam ruangan. Seorang ibu tua (aku biasa memanggilnya Si Mbah) berdiri di belakang di boks makanan tersebut. Ia bertugas melayani jika ada pembeli. Dua buah meja rapat dengan dinding di sebelah barat dan utara. Sedangkan sebuah meja lagi, merapat dengan boks makanan.
Setelah aku masuk dari pintu yang berada di sudut di sebelah barat ruangan, berturut turut masuk empat orang lainnya. Kami semua mengantri untuk membeli makanan. Tetapi, seorang pria setengah baya yang berdiri di belakangku, tiba tiba menyalip antrian. Pria itu kini berdiri di depanku.
Budaya orang Indonesia, pikirku mula mula. Tetapi, pikiranku kemudian berubah. Ketika saatnya pria itu dilayani, ia menarik tanganku dan mempersilahkanku untuk memesan makanan terlebih dahulu. Aku tak habis pikir dan tak mengerti akan tindakan pria itu.
Aku memesan makanan, kemudian bergabung dengan kedua kawanku di meja sebelah utara. Tak berapa lama, pria itupun selesai memesan makanan lalu duduk di meja sebelah barat, di dekat pintu. Di atas meja di depan pria itu, tersaji sepiring makanan. Dan, segelas es jeruk di sebelah kanan piring.
Bletak... Terdengar suara benda terjatuh. Beberapa batu es menggelinding di atas meja yang telah basah oleh cairan. Gelas berisi es jeruk itu terjatuh. Tersenggol seseorang yang hendak duduk di sebelah pria tadi. Kedua orang tersebut tak saling kenal.
Akan ada perkelahian, aku berpikir lagi. Tetapi, pikiranku salah. Orang tersebut meminta maaf. Pria itu memaafkan. Orang tersebut kembali meminta maaf. Pria itu kembali memaafkan. Orang tersebut sekali lagi meminta maaf sambil membersihkan meja. Dan, pria itu sekali lagi memaafkan sembari membantu orang tersebut membersihkan meja.
Setelah meja bersih, keduanya kembali makan sambil sesekali berbincang bincang seperti tak pernah terjadi apa apa. Kedua orang itu baru saja saling kenal.

*Dalam bahasa Jawa halus berarti mohon maaf.
Yogyakarta, 280707 01:46

Read More..

Jumat, 27 Juli 2007

Memori

Kita masih di sini, sayang. Berdiri menunggu di ujung lorong dermaga yang gelap. Gerimis sedari tadi masih saja turun. Menghujam. Memental pada aspal dan laut. Juga atap lorong ini.
Pentalan gerimis itu menyentuhku. Membasahi jaket hitamku yang kusam. Namun, aku tak peduli. Aku hanya ingin menunggu. Bersamamu, sayang.
Lihatlah, laut itu bercahaya. Kerlap kerlip lampu kapal, seperti kunang kunang, di kejauhan. Kerlipan kerlipan itu berjalan. Ada juga yang berhenti. Namun, semuanya jauh. Tak ada yang dekat ataupun mendekati kita.
Sekali lagi aku tak peduli. Kau pun sepertinya tak peduli. Tidak apa apa, sayang. Kita memang tidak membutuhkan cahaya. Seperti cahaya yang enggan mendekati kita.
Mungkin bukan hanya cahaya. Mungkin semua orang. Ayah ibumu dan juga ayah ibuku membenci kita. Keluargamu dan keluargaku juga membenci kita. Semua orang memusuhi kita. Namun, kita tidak membutuhkan mereka semua. Aku hanya butuh kau. Dan, kau hanya butuh aku.
Kita seperti lorong ini, sayang. Sendiri menghadapi terik mentari. Menggigil terguyur hujan tanpa ada yang menemani. Kita juga seperti lorong ini. Terinjak injak kaki kaki yang melangkah.
Masih ingatkan kau, sayang? Ketika semua orang memandang kita jijik. Menganiaya dan melukai kita. Mereka semua menginjak. Dan, kau tak melawan. Aku pun tak melawan.
Terinjak mungkin menyakitkan bagi seseorang. Namun, kita malah tertawa. Karena kita sudah mengerti hidup. Karena terinjak adalah hidup kita.
Kau sangat menyukai laut. Aku masih ingat itu. Laut itu damai, katamu suatu hari. Kini aku menemukan kedamaian itu. Bersamamu. Bersama lautmu.
Gerimis belum lagi mereda. Angin yang berhembus membelokkan rintik rintik air sejengkal. Gerimis terlihat miring.
Rokokku tinggal sebatang. Kau selalu melarangku untuk merokok. Maafkan aku, sayang. Namun, angin malam ini terlalu dingin untukku. Biarlah kuhisap sebatang ini.
Kulihat kau hanya tersenyum. Senyum yang sama seperti dahulu. Senyum yang membuat aku terpikat padamu. Membuat aku bangga padamu. Bangga dengan ketabahanmu dalam menjalani hidup.
Hidup kita memang susah, sayang. Kita terlalu muda dalam berkelana. Usiaku belum genap duapuluh tahun. Sedangkan, kau baru saja melepas putih abu abu.
Dunia ini terlalu ganas bagi kita yang kecil. Namun, kita tak pernah mengeluh. Kau tak pernah mengeluh. Kita selalu melihat ke depan. Walaupun depan tanpa cahaya. Walaupun depan belum tentu ada.
Lorong dermaga ini tinggi. Duapuluh empat anak tangga kita naiki tadi. Laut terlihat sangat indah dari sini. Dan, kita berdiri di ujung lorong.
Malam ini sepi. Hanya ada kau dan aku. Derap langkah yang terdengar sedari pagi kini lenyap. Hanya gerimis yang masih bersuara. Sejak mentari pergi, sore tadi.
Kita masih di sini, sayang. Berdiri dalam gelap ujung lorong dermaga. Gelap yang telah membuat kita melakukan permainan mereka. Permainan yang seharusnya tidak kita mainkan. Namun kita memainkannya.
Dalam gelap, makhluk mungil itu keluar dari lubang kecilmu, sembilan bulan kemudian. Makhluk itu menangis sejenak, kemudian terlelap. Kau pun terlelap. Dan, kalian enggan bersua lagi denganku. Kalian tak lagi bersuara.
Gerimis kini mereda. Rokokku pun telah padam. Kau masih tersenyum dalam bingkai. Agaknya laut masih indah menurutmu. Dan malam ini, aku tahu kenapa laut begitu indah bagimu. Karena laut sebentar lagi akan mempertemukan kita.
Bandar Lampung, 300506

Read More..

Kamis, 26 Juli 2007

Malam*

Mulai kelam
belum buntu malam
kami masih berjaga
Thermopylae?
jagal tidak dikenal?
tapi nanti
sebelum siang membentang
kami sudah tenggelam hilang

*Ini sajak ditulis oleh Chairil Anwar. Gue suka sajak ini, karena mirip banget sama kehidupan gue dan beberapa orang disekitar gue yang terjaga pada malam dan menghilang ketika siang.

Yogyakarta, 260707

Read More..

pilihan itu*

Kalau untuk bisa kaya hatiku harus membatu,
aku pilih tetap sederhana
Untuk bisa raih mimpi hatiku jadi membeku,
aku pilih apa adanya

*diambil dari lagu berjudul serasa di surga milik BIP.

Yogyakarta, 260707

Read More..

ANGIN LALU*

“Ketika semua telah terlewati, hanya memori yang masih menari”

Seandainya ia tidak membuat janji, tentu ia tidak akan terjebak hujan seperti sekarang. Tetapi, Nia tidak menyesal, ada kebulatan tekad dihatinya. Ia harus menepati janjinya. Sekarang atau tidak sama sekali.
Rintik air hujan sesekali menyiprat. Membasahi tubuhnya yang terbalut kaos merah muda. Tetapi, Nia tidak peduli. Ia tetap duduk di pojok kafe kampusnya. Tempat yang ia sukai sejak pertama kali kuliah. Kafe yang terletak di beringin cinta - taman kampus yang selalu ramai oleh mahasiswa. Entah siapa yang menamakan taman itu.
Di depan kafe itu memang berdiri kokoh dua buah pohon beringin. Pohon itu terlihat tua. Umurnya mungkin lebih tua dari kakeknya. Bisa jadi lebih tua dari buyutnya. Tetapi, pohon itu masih berdiri kokoh sampai sekarang. Dan, pohon itu masih berdua. Masih bercinta.
Nia memandangi kedua pohon itu dengan kedua matanya yang tajam. Sesekali ia berkedip, menaikturunkan bulu matanya yang lentik. Nia tersenyum, membuat lesung pipinya membuncah. Nia merasa iri dengan kedua pohon itu. Pohon yang selama bertahun tahun selalu setia sesamanya. Hidup berdua hingga saat ini. Seandainya itu dirinya. Dan, Ian. Nia berkhayal.
Julian. Lelaki yang selalu bersamanya tiga bulan terakhir. Nia sudah lupa awal perjumpaannya dengan Julian. Tetapi, ia tidak pernah lupa hari harinya bersama Julian. Hari hari yang berisi dengan senyum.
Julian selalu bisa membuat Nia tersenyum, bahkan tertawa terbahak bahak. Sepulang kuliah, Julian selalu menjemput Nia. Mereka berdua selalu pergi entah kemana. Kadang nonton di bioskop, berjalan jalan di taman, atau hanya sekedar ngobrol di rumah Nia. Hanya berdua.
Nia senang dengan itu semua. Tetapi, ada kegalauan dalam hati Nia saat ini. Ia tidak pernah tahu isi hati Julian. Benarkah Julian suka padanya? Adakah Julian cinta padanya?
Nia tidak pernah tahu. Julian tidak pernah mengungkapkan isi hatinya. Nia hanya bisa menebak. Dan, Nia tak ingin terus menebak. Ia ingin sebuah kepastian. Untuk itulah ia berada di sini. Nia ingin memastikan isi hati Julian.
Hujan masih turun. Tidak terlalu deras seperti pertama kali ia datang. Tetapi, Julian belum juga tampak. Hati Nia merasa galau sekarang. Benarkah keputusannya yang ia ambil. Keputusan untuk menyatakan cinta kepada Julian. Memastikan isi hati Julian kepadanya.
Ah… Sekarang ini zaman modern. Emansipasi wanita telah mengalir deras, pikir Nia. Bukan masalah jika wanita mengungkapkan cintanya terlebih dahulu. Feodalisme era pertengahan telah lama musnah. Wanita bukan lagi orang yang harus duduk di rumah sampai seorang lelaki meminangnya.
Sebuah bayangan melintas di depan Nia, membuyarkan lamunannya seketika. Seorang lelaki berkemeja biru duduk di depan Nia.
“Maaf telat.” Lelaki itu berkata sambil mengelap kemejanya yang basah terkena hujan. Rambut pendeknya yang basah terlihat mengkilau di mata Nia. Kedua pohon beringin kini tak tampak oleh Nia, tertutup badan tegap lelaki itu.
Dia sudah datang, bisik hati Nia. Kegalauan hatinya kian bertambah. Jantungnya yang berdebar kian kencang membuat tubuhnya sekuat tenaga menahan debaran itu. Tetapi, tetap saja tangannya tak mampu menahan. Tangan Nia bergetar.
“Kenapa? Marah ya,” Ian bertanya pelan. Suaranya hampir tak terdengar tertelan deru hujan.
Enggak,” jawab Nia singkat.
Ian merogoh kantong kemejanya. Sebuah lollypop tergenggam ditangannya. Tangan itu kini menjulur kepada Nia. Lollypop, permen yang sangat disukai Nia sejak saat itu. Saat mereka, Nia dan Ian, berjalan di taman kota menghabiskan sore.
Taman yang penuh canda tawa anak anak kecil yang bermain bersama bunda mereka. Canda seorang pedagang balon pada gadis cilik yang membeli balonnya. Tawa yang menghiasi muda mudi kasmaran, termasuk Nia dan Ian. Mereka berjalan menyusuri taman sambil berbincang. Sesekali, terlihat senyum Nia menyembul dari bibirnya. Sinar mentari sore menambah hangat suasana taman.
Sebuah kecelakaan kecil terjadi di taman itu. Tanpa sempat menghindar, seorang anak bersepeda menabrak Nia. Nia terjatuh dan anak itu terjungkal bersama sepedanya. Seorang wanita berlari, menegur sang anak dan membantunya berdiri. Nia pun berdiri dibantu Ian.
Nia terduduk bangku taman. Siku dan lututnya berdarah. Dua buah plester yang ditempel Ian belum menghilangkan rasa sakit. Nia masih memelas kesakitan.
“Ini,” Ian menjulurkan genggaman tangannya yang berisi sebuah benda kecil. Sebuah lollypop.
Tak ada lagi rasa sakit setelah lollypop itu dihisap. Entah kenapa. Mereka kembali berjalan untuk pulang, walaupun sore belum benar benar habis.
Nia mengambil lollypop itu. Tetapi, kali ini lollypop itu tidak mampu menghilangkan kegalauan hatinya.
“Kenapa?” Ian kembali bertanya.
Enggak apa apa,” jawab Nia sambil membuka bungkus lollypop yang ada ditangannya.
Sejenak keduanya diam. Sejenak sunyi. Hanya gemericik hujan dan gesekan bungkus lollypop yang terdengar.
“Ian, sudah berapa lama kita kenal?” tanya Nia tiba tiba.
Ian menatap Nia dengan serius. Pada wajah Ian, tersirat banyak kebingungan.
“Hampir tiga bulan. Mungkin lebih. Memang kenapa?” kembali pertanyaan itu muncul dari mulut Ian.
Nia tersenyum untuk menghilangkan kesunyian yang ada. Tetapi, ia tidak berhasil. Hujan yang turun malah membuat suasana makin sunyi. Dan, Ian masih menatap Nia - menunggu jawaban.
“Tiga bulan,” akhirnya Nia menjawab.
“Ya. Tiga bulan.”
“Sebenarnya gimana perasaan kamu sama aku?” agak pelan Nia bertanya.
Ian terdiam. Ia tak pernah menyangka akan mendapat pertanyaan seperti ini.
“Aku sayang sama kamu. Dan, selama tiga bulan ini aku selalu berharap menjadi kekasihmu.” Nia berbicara perlahan. Matanya menatap Julian. Penuh harapan.
Ian menunduk. Ian meremas kedua tangannya di atas meja. Matanya keliling mencari sesuatu yang sebenarnya ia pun tak tahu apa yang ia cari.
“Selama tiga bulan ini kita selalu bersama. Menghabiskan waktu berdua. Tapi, selama tiga bulan itu, aku enggak pernah tahu perasaan kamu sebenarnya sama aku,” ucap Nia pelan.
Kesunyian kembali datang. Keduanya terdiam. Hanya rintik hujan yang terdengar. Nia terdiam terpaku. Matanya tak lagi menatap Ian. Nia menunduk. Begitupun lelaki dihadapannya.
Lama keheningan itu ada diantara mereka. Sampai akhirnya, Ian mengangkat wajahnya dan menatap Nia.
“Seharusnya…. Kamu lebih memiliki rasa hormat sebagai wanita.”
Perkataan Ian membuat Nia mengangkat wajahnya. Tetapi, Ian sudah beranjak dari duduknya dan bergegas pergi. Beringin cinta itu dapat kembali dilihat Nia. Tetapi, Nia sudah tak peduli pada mereka. Nia masih terus menatap Ian, sampai ia menghilang di kejauhan.
*****
Hujan kembali turun. Sudah sebulan sejak kejadian itu. Nia tidak pernah melihat Ian lagi. Di kafe itu, Nia bisa menatap beringin tanpa ada yang menghalangi lagi. Sayang, percintaan kedua beringin itu tidak menular kepadanya, walaupun terus ia pandangi. Tak terasa titik titik air mata turun menemani rintikan hujan. Nia menyesal atas perbuatannya sebulan yang lalu.
Mungkin wanita memang harus duduk di rumah sampai ada seorang lelaki datang meminangnya, pikir Nia dalam sesalnya.




*Ini cerita pernah dipublikasikan, tetapi harus ditarik kembali karena suatu hal.





Bandar Lampung, 200606

Read More..

Rabu, 18 Juli 2007

...Jah...





Bis itu berhenti di perempatan jalan. Setengah penumpangnya turun, termasuk saya.

Berjalan perlahan di atas trotoar, menuju utara, ke arah jalan Malioboro. Siang itu, banyak sekali manusia. Sebagian berjalan bersama saya di atas trotoar. Sebagian lagi, terlihat sedang beristirahat di kursi kursi yang ada di sudut perempatan itu. Mereka tidak hanya duduk, karena beberapa terlihat lelap tertidur.


Saya menoleh, melihat mereka yang sedang beristirahat. Saya tatap dan pastikan sekali lagi, ternyata benar. Mereka yang sedang beristirahat adalah gerombolan gelandangan dan pengemis. Banyak sekali, gumam saya dalam hati.


Setelah takjub dengan jumlah gepeng (gelandangan dan pengemis) yang ada, saya kembali berjalan. tetapi, saya kembali menoleh. Sekali ini, saya melihat lima orang sedang nongkrong nongkrong di pinggir trotoar. Empat diantara mereka berambut dreadlock a.k.a gimbal. rastafarian, pikir saya.


Melihat para rastafarian itu, saya teringat obrolan kecil dengan seorang kawan, pada suatu malam. Obrolan tentang Jamaika dan ganja. Kata kawan saya, kalau saya tidak salah ingat, ganja itu Tuhan bagi orang Jamaika. Karena, ganja (orang Jamaika menyebutnya jah) dapat mengurangi penderitaan manusia.


Kawan saya memberi contoh. Dulu, kawannya ada yang mengalami kecelakaan. Akibatnya, kakinya luka parah. Kulitnya mengelupas. Dan, sakitnya luar biasa. Sakit itu dirasakan terus menerus. Sampai akhirnya, ia menghisap ganja. Sakit itu perlahan berkurang, kemudian hilang sama sekali.


Itu khasiat ganja, kata kawan saya. Dan, saya hanya tersenyum membalas kata katanya. Seperti senyum saya saat ini, ketika melangkah ke arah Malioboro.




Yogyakarta, 160707

Read More..

Just Smile


Terkadang, sebuah senyum dapat hadir ditengah sedih yang mendalam. Walaupun sebentar, tetapi senyum itu menyejukkan. Mampu melupakan sejenak segala aral yang melanda. Meringankan beban yang diemban.


Yogyakarta, 150707

Read More..

Sabtu, 14 Juli 2007

Pikiran dan Kenyataan*

Bagi Hegel (1770-1831), apa yang rasional dalam pikiran, rasional pula dalam kenyataan (realitas). Apa yang benar dalam pikiran, benar pula dalam kenyataannya.
Tetapi, menurut Georg Lukacs (1885-1971), pikiran dan kenyataan bukan dua hal yang identik dan tidak mutlak saling menentukan satu sama lain. Dua hal itu tidak berkorespondensi satu dengan lainnya. Pikiran bukan cerminan realitas.
Jadi sebenarnya, seperti apa realitas dalam sebuah pikiran?!....

* Diambil dari buku Akar akar Ideologi karya Bagus Takwin.

Yogyakarta, 130707

Read More..

Kamis, 12 Juli 2007

Di pinggir jalan ini

Di pinggir jalan ini, ada kehidupan. Di atas trotoar yang memanjang bak permadani. Bambu bambu bersambung kain, bertutup terpal beralas tikar. Di sampingnya, kompor berapi yang bernyala-nyala.
Selatan lima puluh meter, di pinggir trotoar. Sebuah tiga buah roda baru saja berhenti. Berkumpul dan berbaris, dengan tiga buah roda lain. Ajakan dan tawaran menjadi musiknya.
Siang tadi, terduduk seorang tua, di atas permadani ini. Mukanya tertunduk mencium lutut yang dihimpit tangan. Mangkuk kecil menganga di depannya.
Di pinggir jalan ini, ratusan orang berjalan setiap harinya. Melangkah setapak demi setapak. Menuju sebuah tujuan, pada sebuah tempat yang bukan di pinggir jalan.
Di pinggir jalan ini, ada kehidupan. Walaupun tak terlalu terang.

Yogyakarta, 120707

Read More..