Kita masih di sini, sayang. Berdiri menunggu di ujung lorong dermaga yang gelap. Gerimis sedari tadi masih saja turun. Menghujam. Memental pada aspal dan laut. Juga atap lorong ini.
Pentalan gerimis itu menyentuhku. Membasahi jaket hitamku yang kusam. Namun, aku tak peduli. Aku hanya ingin menunggu. Bersamamu, sayang.
Lihatlah, laut itu bercahaya. Kerlap kerlip lampu kapal, seperti kunang kunang, di kejauhan. Kerlipan kerlipan itu berjalan. Ada juga yang berhenti. Namun, semuanya jauh. Tak ada yang dekat ataupun mendekati kita.
Sekali lagi aku tak peduli. Kau pun sepertinya tak peduli. Tidak apa apa, sayang. Kita memang tidak membutuhkan cahaya. Seperti cahaya yang enggan mendekati kita.
Mungkin bukan hanya cahaya. Mungkin semua orang. Ayah ibumu dan juga ayah ibuku membenci kita. Keluargamu dan keluargaku juga membenci kita. Semua orang memusuhi kita. Namun, kita tidak membutuhkan mereka semua. Aku hanya butuh kau. Dan, kau hanya butuh aku.
Kita seperti lorong ini, sayang. Sendiri menghadapi terik mentari. Menggigil terguyur hujan tanpa ada yang menemani. Kita juga seperti lorong ini. Terinjak injak kaki kaki yang melangkah.
Masih ingatkan kau, sayang? Ketika semua orang memandang kita jijik. Menganiaya dan melukai kita. Mereka semua menginjak. Dan, kau tak melawan. Aku pun tak melawan.
Terinjak mungkin menyakitkan bagi seseorang. Namun, kita malah tertawa. Karena kita sudah mengerti hidup. Karena terinjak adalah hidup kita.
Kau sangat menyukai laut. Aku masih ingat itu. Laut itu damai, katamu suatu hari. Kini aku menemukan kedamaian itu. Bersamamu. Bersama lautmu.
Gerimis belum lagi mereda. Angin yang berhembus membelokkan rintik rintik air sejengkal. Gerimis terlihat miring.
Rokokku tinggal sebatang. Kau selalu melarangku untuk merokok. Maafkan aku, sayang. Namun, angin malam ini terlalu dingin untukku. Biarlah kuhisap sebatang ini.
Kulihat kau hanya tersenyum. Senyum yang sama seperti dahulu. Senyum yang membuat aku terpikat padamu. Membuat aku bangga padamu. Bangga dengan ketabahanmu dalam menjalani hidup.
Hidup kita memang susah, sayang. Kita terlalu muda dalam berkelana. Usiaku belum genap duapuluh tahun. Sedangkan, kau baru saja melepas putih abu abu.
Dunia ini terlalu ganas bagi kita yang kecil. Namun, kita tak pernah mengeluh. Kau tak pernah mengeluh. Kita selalu melihat ke depan. Walaupun depan tanpa cahaya. Walaupun depan belum tentu ada.
Lorong dermaga ini tinggi. Duapuluh empat anak tangga kita naiki tadi. Laut terlihat sangat indah dari sini. Dan, kita berdiri di ujung lorong.
Malam ini sepi. Hanya ada kau dan aku. Derap langkah yang terdengar sedari pagi kini lenyap. Hanya gerimis yang masih bersuara. Sejak mentari pergi, sore tadi.
Kita masih di sini, sayang. Berdiri dalam gelap ujung lorong dermaga. Gelap yang telah membuat kita melakukan permainan mereka. Permainan yang seharusnya tidak kita mainkan. Namun kita memainkannya.
Dalam gelap, makhluk mungil itu keluar dari lubang kecilmu, sembilan bulan kemudian. Makhluk itu menangis sejenak, kemudian terlelap. Kau pun terlelap. Dan, kalian enggan bersua lagi denganku. Kalian tak lagi bersuara.
Gerimis kini mereda. Rokokku pun telah padam. Kau masih tersenyum dalam bingkai. Agaknya laut masih indah menurutmu. Dan malam ini, aku tahu kenapa laut begitu indah bagimu. Karena laut sebentar lagi akan mempertemukan kita.
Pentalan gerimis itu menyentuhku. Membasahi jaket hitamku yang kusam. Namun, aku tak peduli. Aku hanya ingin menunggu. Bersamamu, sayang.
Lihatlah, laut itu bercahaya. Kerlap kerlip lampu kapal, seperti kunang kunang, di kejauhan. Kerlipan kerlipan itu berjalan. Ada juga yang berhenti. Namun, semuanya jauh. Tak ada yang dekat ataupun mendekati kita.
Sekali lagi aku tak peduli. Kau pun sepertinya tak peduli. Tidak apa apa, sayang. Kita memang tidak membutuhkan cahaya. Seperti cahaya yang enggan mendekati kita.
Mungkin bukan hanya cahaya. Mungkin semua orang. Ayah ibumu dan juga ayah ibuku membenci kita. Keluargamu dan keluargaku juga membenci kita. Semua orang memusuhi kita. Namun, kita tidak membutuhkan mereka semua. Aku hanya butuh kau. Dan, kau hanya butuh aku.
Kita seperti lorong ini, sayang. Sendiri menghadapi terik mentari. Menggigil terguyur hujan tanpa ada yang menemani. Kita juga seperti lorong ini. Terinjak injak kaki kaki yang melangkah.
Masih ingatkan kau, sayang? Ketika semua orang memandang kita jijik. Menganiaya dan melukai kita. Mereka semua menginjak. Dan, kau tak melawan. Aku pun tak melawan.
Terinjak mungkin menyakitkan bagi seseorang. Namun, kita malah tertawa. Karena kita sudah mengerti hidup. Karena terinjak adalah hidup kita.
Kau sangat menyukai laut. Aku masih ingat itu. Laut itu damai, katamu suatu hari. Kini aku menemukan kedamaian itu. Bersamamu. Bersama lautmu.
Gerimis belum lagi mereda. Angin yang berhembus membelokkan rintik rintik air sejengkal. Gerimis terlihat miring.
Rokokku tinggal sebatang. Kau selalu melarangku untuk merokok. Maafkan aku, sayang. Namun, angin malam ini terlalu dingin untukku. Biarlah kuhisap sebatang ini.
Kulihat kau hanya tersenyum. Senyum yang sama seperti dahulu. Senyum yang membuat aku terpikat padamu. Membuat aku bangga padamu. Bangga dengan ketabahanmu dalam menjalani hidup.
Hidup kita memang susah, sayang. Kita terlalu muda dalam berkelana. Usiaku belum genap duapuluh tahun. Sedangkan, kau baru saja melepas putih abu abu.
Dunia ini terlalu ganas bagi kita yang kecil. Namun, kita tak pernah mengeluh. Kau tak pernah mengeluh. Kita selalu melihat ke depan. Walaupun depan tanpa cahaya. Walaupun depan belum tentu ada.
Lorong dermaga ini tinggi. Duapuluh empat anak tangga kita naiki tadi. Laut terlihat sangat indah dari sini. Dan, kita berdiri di ujung lorong.
Malam ini sepi. Hanya ada kau dan aku. Derap langkah yang terdengar sedari pagi kini lenyap. Hanya gerimis yang masih bersuara. Sejak mentari pergi, sore tadi.
Kita masih di sini, sayang. Berdiri dalam gelap ujung lorong dermaga. Gelap yang telah membuat kita melakukan permainan mereka. Permainan yang seharusnya tidak kita mainkan. Namun kita memainkannya.
Dalam gelap, makhluk mungil itu keluar dari lubang kecilmu, sembilan bulan kemudian. Makhluk itu menangis sejenak, kemudian terlelap. Kau pun terlelap. Dan, kalian enggan bersua lagi denganku. Kalian tak lagi bersuara.
Gerimis kini mereda. Rokokku pun telah padam. Kau masih tersenyum dalam bingkai. Agaknya laut masih indah menurutmu. Dan malam ini, aku tahu kenapa laut begitu indah bagimu. Karena laut sebentar lagi akan mempertemukan kita.
Bandar Lampung, 300506
2 komentar:
Anjrit nek, tanpa sepengetahuan gw dalam kebersamaan kita lu dah bisa ngasilin karya kayak gini??
Gw hanya bisa bilang wew...
Teruslah menulis ES!!
Scripta manent, verba volant!!!
uhuiii...
kakak senior-koe...
keyen bener yang satu ini...
gw suka...
keyen...keyen...
saluuttt...
:)
Poskan Komentar