Bis itu berhenti di perempatan jalan. Setengah penumpangnya turun, termasuk saya.
Berjalan perlahan di atas trotoar, menuju utara, ke arah jalan Malioboro. Siang itu, banyak sekali manusia. Sebagian berjalan bersama saya di atas trotoar. Sebagian lagi, terlihat sedang beristirahat di kursi kursi yang ada di sudut perempatan itu. Mereka tidak hanya duduk, karena beberapa terlihat lelap tertidur.
Saya menoleh, melihat mereka yang sedang beristirahat. Saya tatap dan pastikan sekali lagi, ternyata benar. Mereka yang sedang beristirahat adalah gerombolan gelandangan dan pengemis. Banyak sekali, gumam saya dalam hati.
Setelah takjub dengan jumlah gepeng (gelandangan dan pengemis) yang ada, saya kembali berjalan. tetapi, saya kembali menoleh. Sekali ini, saya melihat lima orang sedang nongkrong nongkrong di pinggir trotoar. Empat diantara mereka berambut dreadlock a.k.a gimbal. rastafarian, pikir saya.
Melihat para rastafarian itu, saya teringat obrolan kecil dengan seorang kawan, pada suatu malam. Obrolan tentang Jamaika dan ganja. Kata kawan saya, kalau saya tidak salah ingat, ganja itu Tuhan bagi orang Jamaika. Karena, ganja (orang Jamaika menyebutnya jah) dapat mengurangi penderitaan manusia.
Kawan saya memberi contoh. Dulu, kawannya ada yang mengalami kecelakaan. Akibatnya, kakinya luka parah. Kulitnya mengelupas. Dan, sakitnya luar biasa. Sakit itu dirasakan terus menerus. Sampai akhirnya, ia menghisap ganja. Sakit itu perlahan berkurang, kemudian hilang sama sekali.
Itu khasiat ganja, kata kawan saya. Dan, saya hanya tersenyum membalas kata katanya. Seperti senyum saya saat ini, ketika melangkah ke arah Malioboro.
Yogyakarta, 160707

0 komentar:
Poskan Komentar