Kamis, 26 Juli 2007

ANGIN LALU*

“Ketika semua telah terlewati, hanya memori yang masih menari”

Seandainya ia tidak membuat janji, tentu ia tidak akan terjebak hujan seperti sekarang. Tetapi, Nia tidak menyesal, ada kebulatan tekad dihatinya. Ia harus menepati janjinya. Sekarang atau tidak sama sekali.
Rintik air hujan sesekali menyiprat. Membasahi tubuhnya yang terbalut kaos merah muda. Tetapi, Nia tidak peduli. Ia tetap duduk di pojok kafe kampusnya. Tempat yang ia sukai sejak pertama kali kuliah. Kafe yang terletak di beringin cinta - taman kampus yang selalu ramai oleh mahasiswa. Entah siapa yang menamakan taman itu.
Di depan kafe itu memang berdiri kokoh dua buah pohon beringin. Pohon itu terlihat tua. Umurnya mungkin lebih tua dari kakeknya. Bisa jadi lebih tua dari buyutnya. Tetapi, pohon itu masih berdiri kokoh sampai sekarang. Dan, pohon itu masih berdua. Masih bercinta.
Nia memandangi kedua pohon itu dengan kedua matanya yang tajam. Sesekali ia berkedip, menaikturunkan bulu matanya yang lentik. Nia tersenyum, membuat lesung pipinya membuncah. Nia merasa iri dengan kedua pohon itu. Pohon yang selama bertahun tahun selalu setia sesamanya. Hidup berdua hingga saat ini. Seandainya itu dirinya. Dan, Ian. Nia berkhayal.
Julian. Lelaki yang selalu bersamanya tiga bulan terakhir. Nia sudah lupa awal perjumpaannya dengan Julian. Tetapi, ia tidak pernah lupa hari harinya bersama Julian. Hari hari yang berisi dengan senyum.
Julian selalu bisa membuat Nia tersenyum, bahkan tertawa terbahak bahak. Sepulang kuliah, Julian selalu menjemput Nia. Mereka berdua selalu pergi entah kemana. Kadang nonton di bioskop, berjalan jalan di taman, atau hanya sekedar ngobrol di rumah Nia. Hanya berdua.
Nia senang dengan itu semua. Tetapi, ada kegalauan dalam hati Nia saat ini. Ia tidak pernah tahu isi hati Julian. Benarkah Julian suka padanya? Adakah Julian cinta padanya?
Nia tidak pernah tahu. Julian tidak pernah mengungkapkan isi hatinya. Nia hanya bisa menebak. Dan, Nia tak ingin terus menebak. Ia ingin sebuah kepastian. Untuk itulah ia berada di sini. Nia ingin memastikan isi hati Julian.
Hujan masih turun. Tidak terlalu deras seperti pertama kali ia datang. Tetapi, Julian belum juga tampak. Hati Nia merasa galau sekarang. Benarkah keputusannya yang ia ambil. Keputusan untuk menyatakan cinta kepada Julian. Memastikan isi hati Julian kepadanya.
Ah… Sekarang ini zaman modern. Emansipasi wanita telah mengalir deras, pikir Nia. Bukan masalah jika wanita mengungkapkan cintanya terlebih dahulu. Feodalisme era pertengahan telah lama musnah. Wanita bukan lagi orang yang harus duduk di rumah sampai seorang lelaki meminangnya.
Sebuah bayangan melintas di depan Nia, membuyarkan lamunannya seketika. Seorang lelaki berkemeja biru duduk di depan Nia.
“Maaf telat.” Lelaki itu berkata sambil mengelap kemejanya yang basah terkena hujan. Rambut pendeknya yang basah terlihat mengkilau di mata Nia. Kedua pohon beringin kini tak tampak oleh Nia, tertutup badan tegap lelaki itu.
Dia sudah datang, bisik hati Nia. Kegalauan hatinya kian bertambah. Jantungnya yang berdebar kian kencang membuat tubuhnya sekuat tenaga menahan debaran itu. Tetapi, tetap saja tangannya tak mampu menahan. Tangan Nia bergetar.
“Kenapa? Marah ya,” Ian bertanya pelan. Suaranya hampir tak terdengar tertelan deru hujan.
Enggak,” jawab Nia singkat.
Ian merogoh kantong kemejanya. Sebuah lollypop tergenggam ditangannya. Tangan itu kini menjulur kepada Nia. Lollypop, permen yang sangat disukai Nia sejak saat itu. Saat mereka, Nia dan Ian, berjalan di taman kota menghabiskan sore.
Taman yang penuh canda tawa anak anak kecil yang bermain bersama bunda mereka. Canda seorang pedagang balon pada gadis cilik yang membeli balonnya. Tawa yang menghiasi muda mudi kasmaran, termasuk Nia dan Ian. Mereka berjalan menyusuri taman sambil berbincang. Sesekali, terlihat senyum Nia menyembul dari bibirnya. Sinar mentari sore menambah hangat suasana taman.
Sebuah kecelakaan kecil terjadi di taman itu. Tanpa sempat menghindar, seorang anak bersepeda menabrak Nia. Nia terjatuh dan anak itu terjungkal bersama sepedanya. Seorang wanita berlari, menegur sang anak dan membantunya berdiri. Nia pun berdiri dibantu Ian.
Nia terduduk bangku taman. Siku dan lututnya berdarah. Dua buah plester yang ditempel Ian belum menghilangkan rasa sakit. Nia masih memelas kesakitan.
“Ini,” Ian menjulurkan genggaman tangannya yang berisi sebuah benda kecil. Sebuah lollypop.
Tak ada lagi rasa sakit setelah lollypop itu dihisap. Entah kenapa. Mereka kembali berjalan untuk pulang, walaupun sore belum benar benar habis.
Nia mengambil lollypop itu. Tetapi, kali ini lollypop itu tidak mampu menghilangkan kegalauan hatinya.
“Kenapa?” Ian kembali bertanya.
Enggak apa apa,” jawab Nia sambil membuka bungkus lollypop yang ada ditangannya.
Sejenak keduanya diam. Sejenak sunyi. Hanya gemericik hujan dan gesekan bungkus lollypop yang terdengar.
“Ian, sudah berapa lama kita kenal?” tanya Nia tiba tiba.
Ian menatap Nia dengan serius. Pada wajah Ian, tersirat banyak kebingungan.
“Hampir tiga bulan. Mungkin lebih. Memang kenapa?” kembali pertanyaan itu muncul dari mulut Ian.
Nia tersenyum untuk menghilangkan kesunyian yang ada. Tetapi, ia tidak berhasil. Hujan yang turun malah membuat suasana makin sunyi. Dan, Ian masih menatap Nia - menunggu jawaban.
“Tiga bulan,” akhirnya Nia menjawab.
“Ya. Tiga bulan.”
“Sebenarnya gimana perasaan kamu sama aku?” agak pelan Nia bertanya.
Ian terdiam. Ia tak pernah menyangka akan mendapat pertanyaan seperti ini.
“Aku sayang sama kamu. Dan, selama tiga bulan ini aku selalu berharap menjadi kekasihmu.” Nia berbicara perlahan. Matanya menatap Julian. Penuh harapan.
Ian menunduk. Ian meremas kedua tangannya di atas meja. Matanya keliling mencari sesuatu yang sebenarnya ia pun tak tahu apa yang ia cari.
“Selama tiga bulan ini kita selalu bersama. Menghabiskan waktu berdua. Tapi, selama tiga bulan itu, aku enggak pernah tahu perasaan kamu sebenarnya sama aku,” ucap Nia pelan.
Kesunyian kembali datang. Keduanya terdiam. Hanya rintik hujan yang terdengar. Nia terdiam terpaku. Matanya tak lagi menatap Ian. Nia menunduk. Begitupun lelaki dihadapannya.
Lama keheningan itu ada diantara mereka. Sampai akhirnya, Ian mengangkat wajahnya dan menatap Nia.
“Seharusnya…. Kamu lebih memiliki rasa hormat sebagai wanita.”
Perkataan Ian membuat Nia mengangkat wajahnya. Tetapi, Ian sudah beranjak dari duduknya dan bergegas pergi. Beringin cinta itu dapat kembali dilihat Nia. Tetapi, Nia sudah tak peduli pada mereka. Nia masih terus menatap Ian, sampai ia menghilang di kejauhan.
*****
Hujan kembali turun. Sudah sebulan sejak kejadian itu. Nia tidak pernah melihat Ian lagi. Di kafe itu, Nia bisa menatap beringin tanpa ada yang menghalangi lagi. Sayang, percintaan kedua beringin itu tidak menular kepadanya, walaupun terus ia pandangi. Tak terasa titik titik air mata turun menemani rintikan hujan. Nia menyesal atas perbuatannya sebulan yang lalu.
Mungkin wanita memang harus duduk di rumah sampai ada seorang lelaki datang meminangnya, pikir Nia dalam sesalnya.




*Ini cerita pernah dipublikasikan, tetapi harus ditarik kembali karena suatu hal.





Bandar Lampung, 200606

1 komentar:

ZAKY ZETYA mengatakan...

Wah, suatu hal itu apa Ne? Emang dipublikasiin dimana? Btw, shoutbox lu dibuat dong. Biar bisa komentar langsung.

Btw, maap niy masuk 'wilayah' rakyat berkuasa dan pemerintah menuruti.

Tapi kalo gw sendiri, selamanya akan tetap berseberangan dengan pemerintah, selama pemerintah masuh berhukum dengan hukum sekuler. Demikian juga dengan rakyat, gw gakkan membela rakyat jika rakyat pun bertindak semaunya.

Artinya, rakyat dan pemerintah harus sama2 sadar.

Dan jaman sekarang? Hm,kl pemerintah memutuskan untuk menutup t4 hiburan malam krn cenderung byk maksiatnya, gw dukung! Tp kl pemerintah dh mengeluarkn UU yg membolehkan wanita mempertontonkan auratnya sekena hati, pemerintah adalah musuh gw!

Hidup kebangkitan umat!

__Bangkit sejak dari pikiran__
-same posting di friendster-